Hukum  

Dwi Handoko Lelono Karyawan PT.Bahana Line Sepakati Bantu Jual Poket PT.Meratus Line

Sukardi Kerap Kendalikan Ditengah-tengah Suplai Pengisian BBM

Wasilah Indi

Jagad Warta – Surabaya, Sidang lanjutan, agenda pemeriksaan para terdakwa yang terlibat praktek kotor gelapkan BBM solar milik PT.Meratus Line kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Jumat (3/3/2023).

Praktek kotor gelapkan BBM solar tersebut, secara fakta dipersidangan, telah melibatkan karyawan PT.Bahana Line sebagai vendor suplai BBM ke kapal PT. Meratus Line.

Dipersidangan, para terdakwa diantaranya, David Ellis Sinaga, Dody Teguh Perkasa, Dwi Handoko Lelono, Mohammad Halik dan Sukardi (dalam satu berkas).

Diantara para terdakwa, secara masing masing menyatakan, pada agenda pemeriksaan dan sebagai saksi, keterangannya sama.

5 Karyawan PT.Bahana Line Ditetapkan Sebagai Terdakwa Terlibat Penggelapan BBM Solar Milik PT.Meratus Line.

Terkait, keterangan para terdakwa sama halnya, dengan keterangan saat sebagai saksi telah menyingkap tabir unsur perbuatan para terdakwa terlibat dan menikmati uang hasil praktek kotor penggelapan BBM solar milik PT.Meratus Line telah terbukti.

Hal lainnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Esti Dila berupaya, menguak dugaan dugaan keterlibatan yang lainnya.

Adapun, upaya JPU yakni, melemparkan pertanyaan terhadap David Ellis Sinaga (terdakwa) terkait, Cendra Rustam bagian keuangan PT.Bahana Line, disampaikan terdakwa yakni, terdakwa pernah titip uang secara tunai bukan uang perusahaan PT.Bahana Line melainkan, hasil penjualan poket guna di transfer ke Edi Setyawan.

” Saya pernah minta tolong Cendra Rustam untuk kirim transfer ke Supriyadi dan Gunadi. Hal ini, memang permintaan Edi Setyawan agar uang hasil jual poket di transfer juga terkadang di minta tunai ,” ujarnya.

Hal lainnya, saat JPU, menyinggung Edi Setyawan yang meminta kenaikan harga jual poket bahwa terdakwa katakan, tunggu Sutikno Tuhuteru.

David menimpali jawaban berupa, dananya ada namun, dana terkadang saya yang bawa terkadang juga di bawa David maka saya katakan tunggu dulu.

” Kami sengaja ber jawaban tunggu Sutikno Tuhuteru agar Edi Setyawan percaya terkait penjualan poket tersebut,” ungkapnya.

Sedangkan terkait, nego kenaikan harga, David katakan, ketika nego harga saya jawab, tanya atasan dulu. Atasan yang saya maksud yakni, Dwi Handoko Lelono (terdakwa) bukan Sutikno Tuhuteru.

Pengakuan David Ellis Sinaga lainnya, yakni, mengaku mendapatkan keuntungan membantu jula poket tiap liternya.

Selain itu, tiap menyerahkan uang hasil penjualan poket, saya di beri uang ongkos oleh, Edi Setyawan sebesar 500 Ribu.

David juga mengaku, uang hasil kejahatan berupa jual poket tidak buat membeli apa apa.

Penyesalan yang disampaikan, David yaitu, gegara ulahnya terlibat dalam perkara ini, telah merugikan pihak PT.Meratus Line juga PT.Bahana Line.
” Saya menyesal karena perbuatannya PT.Bahana Line hancur atas ulahnya ,” paparnya.

Terdakwa lainnya, Sukardi (dalam satu berkas), dirinya yang menjual BBM dan jika diuangkan bisa mencapai 50 Juta tiap malam.

Lebih lanjut, saya menjual BBM di malam hari uang pembayaran langsung tunai saya serahkan langsung ke Doddy dan David.

Dari penjualan poket, ada keuntungan dan fee. Hal ini, yang membagi adalah Dwi Handoko (terdakwa).

Penyesalan Sukardi disampaikan, uang hasil praktek kotor ini habis. Atas kasus tersebut, saya menyesal dan sebenarnya niat kami membantu.
” Mohon maaf kepada semua pihak yang dirugikan atas perbuatannya,” ungkapnya.

Terdakwa Mohammad Halik, mengatakan, mengetahui semua rangkaian perbuatan ini. Namun, tidak secara detail.

Diawal awal, saya menolak saat diberi bagian dari hasil penjualan poket. Dirinya, tidak bisa menolak lantaran, merasa punya hutang budi terhadap Dwi Handoko Lelono sang Manager.

Hal lainnya, Halik tidak menampik pernah berkomunikasi dengan Edi Setyawan. Dalam penyesalan, M.Halik, mengaku, merasa bersalah karena membiarkan permainan kotor ini.

Sementara, Dwi Handoko Lelono (terdakwa) katakan, perihal membantu menjual poket didapat keuntungan sekitar 9 Jutaan.

Keuntungan dari penjualan poket, dibagikan lebih banyak ke Sukardi karena di lapangan pada malam hari.

Pembagian keuntungan jual poket maupun penyerahan uang hasil penjualan poket disampaikan, Dwi Handoko yakni, tiap penjualan poket sebanyak 60 KL.

” Tiap 60 KL yang telah terjual uangnya di berikan Edi Setyawan, Sedangkan, keuntungan penjualan poket langsung dibagikan , ” ungkapan.

Dwi Handoko Lelono, juga mengatakan, uang hasil praktek kotor ini, habis dibuat ke sarana hiburan malam (dugem). MET.

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari
Girl in a jacket
www.jagadwarta.com