Hukum  

5 Karyawan PT.Bahana Line Terjerembab Penggelapan BBM PT.Meratus Line Merugi

Wasilah Indi

Jagad Warta – Surabaya, Karyawan PT.Bahana Line selaku, penyuplai BBM solar ke PT.Meratus Line terjerembab dalam kasus penggelapan BBM.

Dalam kasus tersebut, 5 karyawan PT.Bahana Line diantaranya, David Ellis Sinaga, Dody Teguh Perkasa, Dwi Handoko Lelono, Mohammad Halik dan Sukardi jalani proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya pada Senin (16/1/2023).

Dipersidangan, Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Uwais Deffa menghadirkan 4 orang saksi guna dimintai keterangan atas perkara dugaan penggelapan BBM milik PT.Meratus Line.

4 saksi yang dihadirkan JPU, yaitu, karyawan PT. Meratus Line, diantaranya, yakni, Slamet Raharjo, Feni, Ongko Maya Dewi dan Katarina.

Dalam keterangan, Feni , mengatakan, dirinya yang menghitung kerugian PT.Meratus Line.

Feni meyakini, hasil audit kerugian meliputi periode tahun 2015 yakni, sebesar 500 Milyard dan estimasi kedua dari data rekap poket diperoleh angka kerugian sebesar 94 Milyard kemudian audit eksternal diperoleh bukti kerugian sebesar 93 Milyard.

Lebih lanjut, Feni sampaikan, hasil audit internal diberikan tim audit eksternal hanya sebagai referensi saja.
” Laporan audit internal bukan menjadi dasar penghitungan tim audit eksternal,” ungkapnya.

Perihal perbedaan hasil audit internal yakni, 500 Milyard dan 94 Milyard, disampaikan Feni, bahwa temuan kerugian 500 Milyard terhitung sejak periode 2015.

Sedangkan, temuan kerugian 94 Milyard dari pengakuan (para terdakwa karyawan PT.Meratus Line) juga data rekap poket.

Sesi selanjutnya, Slamet dalam keterangannya, kita hormati produk hukum maka jika tidak puas silahkan ajukan ke lembaga.

Tanggapan saksi diatas, guna menepis, bahwa Penasehat Hukum terdakwa, menyebutkan, dirinya (Slamet Raharjo) pernah diperiksa di kepolisian atas dugaan penyekapan atau dalam laporan kepolisian yakni, merampas kemerdekaan seseorang.

Terkait perhitungan audit, yang peroleh keuntungan adalah PT.Bahana Line.
Saksi-pun, juga menjelaskan, yang dihadirkan level bawah.

” Secara personal ada bukti transfer oleh pejabat PT.Bahana Line ke crew kita ,” dalih saksi.

Perihal perjanjian antara PT.Meratus Line dan PT. Bahana Line, diungkapkan, Penasehat Hukum terdakwa, jika terdapat kekurangan perlu adanya musyawarah bukan malah langsung melaporkan perkara ini ke Kepolisian oleh, saksi ditanggapi berupa, pihaknya melaporkan karyawan kami.

Sedangkan,saksi temukan kejanggalan BBM apakah sudah komunikasi dengan tagihan yang dibekukan ?.

Dalam tanggapannya, saksi mengatakan,
pengiriman PT. Bahana Line ke PT. Meratus Line tidak ada masalah.

” Soal tagihan bukan ranah pidana ,” ujar saksi.

Masih menurut saksi, Edi Setyawan dan Eko adalah karyawan outsourcing dari perusahaan Mirza dan yang lainnya, karyawan organik.

Edi Setyawan (terdakwa) aktor utama, karena Edi Setyawan sopir untuk meteran ke bunker. Di terangkan, saksi, atasan Edi Setiawan adalah Erwinsyah karyawan organik yang sudah 10 tahun yang lalu bekerja di PT.Meratus Line.

” Untuk pengawas Erwinsyah Urbanus (terdakwa) adalah Basuki dan Rudi sebagai pengawas Basuki. Rudi sendiri, dibawah pengawasan saya ,” ujar saksi.

Saksi juga menyebut, Erwinsyah Urbanus (terdakwa) dalam hal ini, terlibat maka tampak baik baik saja.

Saya juga, sampaikan, melihat ada sesuatu yang tidak benar atau janggal dan dicek agak susah menemukan buktinya.

Keterangan Ongko Maya Dewi, disampaikan, pada 24 Januari dalam interview sudah diketahui ada kejanggalan.

Pada September 2021 order tetap dilakukan dan tidak dihentikan karena masih dugaan belum ada bukti.

Saksi juga mengakui, PT.Meratus Line hingga kini ada hutang 50 Milyard dan masih memesan guna suplai BBM tapi tidak dikirim oleh, PT.Bahana Line.  MET.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari
Girl in a jacket
www.jagadwarta.com